Selasa, 22 November 2016

NOVEL (DAFFA AND DELLA)



*1-First Day Outside, LOST!*

Kukira mendatangi Inggris di bulan Desember adalah saat yang tepat, namun ternyata dugaanku meleset. Aku mendatangi Inggris di cuaca yang salah. Desember, bulan dimana butiran-butiran salju turun di sebagian besar daratan Eropa, termasuk Inggris. Sejujurnya, aku ingin sekali merasakan dinginnya salju yang turun hampir setiap hari di berbagai tempat, menikmati salju-salju terjatuh diantara  dahan-dahan pohon dan menutupi jalan-jalan yang ada. Namun, kini semua terasa mustahil. Dua hari di negeri Elizabeth ini mampu membuatku demam tinggi dan berulang kali bersin karena virus influenza telah menempel di hidungku. Aku benar-benar belum terbiasa dengan cuaca ini. Cuaca dingin ini mampu mencapai 0C. semua ini membuatku bergidik ngeri membayangkan apakah aku masih bisa hidup dalam dua bulan ke depan? Cukup dua hari saja, aku merasa ingin mati.
Namun, di sisi lain, ada rasa takjub yang mengalihkan rasa kesalku selama di dalam apartemen. Aku selalu duduk di dekat jendela dan melihat pemandangan di luar apartemen. Aku tertegun melihat orang-orang yang berlalu lalang memakai berlapis-lapis mantel, syal, sepatu boots, dan topi di lengkapi penutup telinga. Warna putih salju memberikan kesan tak ternilai untukku. Begitu cantik, memukau, dan sangat indah. Aku ingin melewati tumpukan salju itu dan aku ingin-dengan sengaja-menghempaskan tubuhku di atas tumpukan salju yang menawan itu.
“Adel?” kak Daffa membuyarkan lamunanku.
“I-iya kak, kenapa?” aku tergagap.
“Cari makan yuk Del? Sekalian jalan-jalan!” ajak kak Daffa.
“Tapi kak, aku nggak ada mantel, sepatu boots, atau apalah buat keluar,” sesalku.
“sekarang kamu pakai punya kakak dulu, tuh udah kakak siapin. Habis ini kita cari peralatan musim dingin buat kamu, Del.” Tawarnya lembut.
“oke kak!” kataku menyanggupi. Kak Daffa mengenakan sebuah mantel tebal berwarna hitam dipadukan dengan syal berwarna putih. Sedangkan aku memakai mantel cokelat tua selutut dengan syal cokelat muda yang menghangatkan leherku. Kak Daffa terkekeh melihat mantelnya yang berukuran terlalu besar untukku. Aku cukup memakluminya karena aku-mungkin-sejajar dengan dada bidangnya. Melihat tingginya yang kurang lebih 185 cm selalu membuatku berfikir kalau kak Daffa mempunyai hormon pertumbuhan yang berlebih. Walaupun sebenarnya, tingginya termasuk  ukuran rata-rata bagi para bule, aku selalu berfikir kalau dia abnormal-setidaknya-untuk kebanyakan orang Indonesia.
Setelah 2 hari mengurung diri dalam ruangan penuh pemanas, akhirnya aku memberanikan diri untuk menginjakkan kaki di luar apartemen. Rasa keingin-tahu-anku lebih besar dibandingkan keraguanku untuk menginjak bulir-bulir lembut yang membalut London saat ini. Hawa dingin yang menusukku kian terasa ketika aku menginjakkan kaki di luar apartemen. Beberapa lapis mantel dan balutan sarung tangan tidak mampu menyembunyikan hawa dingin ini. Wajahku yang diterpa angin terasa membeku. Aku bisa mendengar suara gigi-gigiku bergemeretak karena dinginnya cuaca. Kak Daffa yang melihatku sedang beradaptasi dengan cuaca dingin ini berulang kali terkekeh tanpa henti. Aku yang berjalan beriringan dengannya hanya bisa mendengus sebal.
Aku dan Kak Daffa berhenti di sebuah halte bus, lalu kami menaiki bus merah bertingkat yang sangat populer di negeri Elizabeth ini. Ini kali pertama aku menaikinya. Untunglah, saat itu penumpang sedang sepi, jadi aku bisa bebas memilih tempat duduk. Aku memilih duduk di kursi belakang dekat jendela. Kak Daffa duduk di sebelahku. Aku melihat pemandangan di luar jendela. Bangunan-bangunan kuno yang masih kokoh berjajar rapi di sepanjang jalan. Yang tak membuatku bosan sama sekali ialah daerahnya yang begitu bersih. Sampah-sampah berceceran hampir tak ditemukan. Saat mengamati suasana sekitar, tiba-tiba terlintas di benakku kemanakah bus ini melaju.
“Kak, kita mau kemana?” tanyaku pada kak Daffa yang sedang bersandar di kursi.
“Ben’s cookies” jawabnya singkat.
Where is that?” tanyaku kembali, masih tak mengerti.
Let’s see then,” jawabnya penuh teka-teki sembari memejamkan mata. Aku masih ingin bertanya, namun aku mengurungkan niatku untuk bertanya lagi. Aku hanya harus bersabar menghadapinya.
Sepuluh menit kemudian, bus berhenti di sebuah halte. Kak Daffa mengisyaratkan untuk turun. Aku melihat papan jalan yang menunjukkan dimana aku berada. Kensington High Street. Aku sama sekali tidak tahu dimana Kensington ini berada. Aku masih sangat asing dengan daerah-daerah di sini.  Langkah kak Daffa yang panjang sulit kuimbangi. Sementara itu, aku melihat jalan-jalan di sekelilingku sedang dibersihkan dari salju yang menumpuk dan menghalangi para pejalan kaki.
Kak Daffa berhenti di sebuah kedai modern. Plakat kedai itu sangat jelas bertuliskan Ben’s Cookies. Kedai ini berada di daerah 12 Kensington Arcade, Kensington High street, London. Pernak-pernik natal telah terpasang lengkap di dalam kedai. Suasana modern tersirat jelas dari furniture yang dipakai. Pemanas ruangan yang baik membuatku betah untuk berlama-lama di ruangan ini. Lantai parquet membuat kehangatan serta kenyamanan bertambah. Sebelum kami duduk, kak Daffa telah memesan sesuatu kepada waiters di bagian menu. Kemudian kak Daffa mengajakku duduk di ujung ruangan di dekat jendela utama.
Kami duduk berhadapan, masih saling terdiam. Ada rasa canggung yang membatasi kami berdua, entah karena terlalu lama kami tak bertatap muka, atau yang lainnya, aku juga tidak tahu. Yang jelas, kami masih sibuk dengan fikiran kami masing-masing.
“Adel?” ucap kak Daffa sedikit menggantung. Aku sedikit tersentak kaget mendengarnya.
What do you think about England?” Tanya kak Daffa dengan logat English yang kental. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. Aku hanya mengedikkan bahuku sambil memikirkan jawaban untuk pertanyaan kak Daffa ini.
I regret, but I am satisfied.” Jawabku sekenanya. Kak Daffa mengangkat alisnya seakan mencari jawaban lain. Sebelum ia sempat bertanya lagi, buru-buru aku menyelanya, “Don’t ask me why? Aku juga nggak tahu kenapa kak, masih asing sama England. Aku juga belum bisa beradaptasi sepenuhnya sama cuaca ini, tapi yang bikin aku puas itu di sisi lingkungannya, clean, arsitektur kunonya juga sangat-sangat menggoda. And honestly, this is my first winter!
Kak Daffa yang mendengarku mengoceh panjang lebar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tertawa. “Just enjoy your day before winter changed into spring!” sarannya padaku. Aku hanya memutar-mutar bola mataku dan memanyunkan bibirku, lalu samar-samar aku mengangguk.
Tiba-tiba aku menyadari bahwa perutku telah mendendangkan irama sumbang yang cukup keras. Kak Daffa yang memperhatikanku sepertinya menyadari hal memalukan ini. Ia mengatupkan bibirnya, mencoba menahan tawa yang sepertinya meledak-ledak bila ia tak menahannya. Melihat reaksinya, wajahku serasa memanas menahan malu. Itu suara alam bawah sadar, mana bisa nahan? Erangku dalam hati.
Be patient, Del!” seloroh Kak Daffa dengan ringan diiringi tawanya yang masih tertahan. Aku hanya mengangguk lesu sambil memainkan jari-jari tanganku.
Sepuluh menit kemudian, seorang pelayan cantik mengenakan setelan seragam berwarna merah membawa nampan berisi 2 cake cokelat dan 2 cangkir cokelat panas. Aroma cokelat yang khas dapat tercium dengan sempurna ketika 2 menu itu sampai di hadapanku. Kepulan uap cokelat panas itu terlihat semakin menggoda saat aku mencuri pandang ke arah cokelat panasku. Aku semakin tak sabar untuk meneguknya. Setelah waiters itu selesai menghidangkan pesanan kami, pelayan itu tersenyum lalu pergi meninggalkan mejaku. Sejenak aku menatap kak Daffa, sembari mencari isyarat untuk mulai mengisi perut yang kurasa akan berbunyi semakin keras apabila kami semakin lama menunda untuk memulainya.
“Silahkan nona putri yang cantik!” ujarnya mempersilahkan sembari mengerlingkan sebelah matanya. Tanpa menunggu perintah dua kali, aku langsung menyambar cokelat panasku dan buru-buru meneguknya. Tapi,……
“AWWW!!” teriakku spontan.
“Kenapa Del?” kak Daffa buru-buru menatapku. “Panas banget kak, eh..” keluhku menyadari kebodohanku. Kak Daffa hanya menggeleng melihat kelakuanku yang super aneh. Sabar ya kak, Adel emang ceroboh!
Aku mencoba untuk memperbaiki hari awalku ini, aku menyendok sedikit cake cokelat di depanku. Cake cokelat ini begitu lembut saat aku mencoba mengambilnya. Belum selesai sampai di situ, aku merasa surprised saat lelehan cokelat kental muncul dari dalam cake cokelat ini. Aku terkesima.
“Jangan bengong dong Del! Cobain deh!” kak Daffa mengagetkanku sambil menjulurkan sendoknya yang berisi cake cokelat ke mulutku. Sebetulnya, aku sedikit canggung, tapi aku memantapkan hati untuk menerima suapan kecil darinya.
Kak Daffa mencoba memastikan, “How its feel on your tongue?”. Aku mengerjap-ngerjapkan kelopak mataku, mengunyah sesaat, lau menelan cokelat lembut itu, “Great kak, this is the best taste that I’ve ever felt! So delicious!”
Are you serious?” kak Daffa mencoba memastikan kembali. Aku mengangguk yakin. Kak Daffa terlihat sumringah ketika aku meyakinkannya. Ah! Senyum manis kak Daffa tak pernah berubah, selalu membuat jantungku berdetak lebih keras.
“Ini tuh muffin Del,” ucapnya singkat, membuyarkan lamunanku. Mendengar ucapannya barusan, aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat sesuatu. Muffin? Seolah tak asing lagi. Aku mencoba memutar otakku yang sempit ini. Muffin..muffin..muffin.. ah! Aku ingat!
“Bukannya muffin itu cake tradisional yang bentuknya gulungan, bundar, terus tipis ya kak? Kalau nggak salah bukannya cara makan muffin itu disobek dulu terus di kasih selai, baru dimakan?” cerocosku tanpa henti. Kak Daffa tersenyum lebar,”Bener banget Del, tapi kalo yang kita makan sekarang ini tuh Double chocolate cookie. Istilahnya muffin yang udah dimodifikasi gitu Del!”
“Oh, gitu… tapi beneran deh kak, enak banget muffinnya!”
“Jelas dong, my choice is the best choice!” sombongnya sembari menjulurkan lidah.
“Uurgh, too confident!” kilahku.
“Biarin, weekkk,” belanya sambil menjulurkan lidahnya lagi. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang menggelikan, kak Daffa masih seperti anak kecil terkadang.
Pagi ini, kehangatan dari tawa dan canda seseorang di depanku. Tawa renyah itu, lesung pipit itu, suara ceria itu, hmm.. terlalu lama aku merindukannya, mungkin. Dan pagi ini, adalah permulaan yang indah bersama kak Daffa. Sebisa mungkin aku mengingat saat-saat ini, saat dimana ia tertawa lebar, tawa yang tak akan pernah kumiliki.
Setelah sarapan usai, kami berencana untuk berburu peralatan dan segala pernak pernik yang terkait musim dingin. Ya, setidaknya sebagai refreshing sebelum aku memasuki sekolah baru dimana kesibukan akan menjadi rutinitas utama. Ehm, anggap juga ini adalah berkah atas keteledoranku meninggalkan seluruh perlengkapan musim dinginku di Indonesia. Sia-sia saja jika aku beribu kali menyesal, toh aku terlanjur sampai di London. Huft!
Sebenarnya, ketika aku dan kak Daffa berjalan beriringan, aku berharap dalam hati agar kami melangkah menuju Bond Street. Aku sangat berharap ke tempat itu karena rasa penasaran tentunya. Ya, bagaimana tidak penasaran? Tempat itu adalah pusat pertokoan paling mewah dan bergengsi di Inggris. Karena apa? Di sanalah tempat favorit para keluarga kerajaan Inggris dan kerajaan lainnya. Waw, hanya sekedar membayangkan diriku berbelanja di sana membuatku serasa melayang tinggi, bisa bertemu pangeran-pangeran Eropa, mengenakan dresses yang dibeli di butik Royyal Warrant-butik yang telah diberi sertifikat karena menjadi supplier istana  dan keluarga kerajaan Inggris. Nikmatnya…
TAK!!!
“Auw!!” aku berjengit kaget ketika seseorang menjitak kepalaku tanpa permisi dan menyadarkan aku dari khayalan seruku.
“Mikirin apa Del? Dari tadi senyum-senyum sendiri!” ledek kak Daffa. Aku berusaha mengelak dan mencari bahan pembicaraan lain, “eh..oh.. nggak mikirin apa-apa kok kak! Oiya, kita jadinya kemana nih? Mau ke Oxford street, Portobello market, or Picadilly circus?
Ehm, maybe the best beginning is Oxford street.” Timbangnya ragu-ragu namun penuh keyakinan. “Okay, I agree, sir!” ujarku girang.
Setelah menaiki bus lagi, sejurus kemudian kami turun. Yak, akhirnya sampai juga. Lalu lalang orang yang menenteng berbagai barang belanjaan membuatku-sekali lagi-terkesimal, terlebih lagi yang kulihat saat ini bukan orang-orang Indonesia dengan kulit sawo matang yang khas, melainkan ratusan-bahkan-ribuan bule berlalu lalang membawa banyak tas belanjaan yang-tak jarang-bertuliskan brand-brand terkenal.
Masih merasa takjub, kak Daffa tiba-tiba menggandeng tanganku dan masuk ke dalam keramaian ini. Aku masih terlihat canggung berjalan di antara bule-bule yang perawakannya, yah, bisa dibilang berbanding jauh denganku. Rasanya seperti terkucilkan.
Aku hanya mengikuti kemana langkah kak Daffa, sambil mengamati  ornamen-ornamen natal yang dipajang di sepanjang kanan kiri jalan yang dipenuhi kios beraneka ragam, mulai dari toko pakaian, mainan anak-anak, toko makanan, hingga souvenir khas London sepertinya bisa didapat di sini. Setahuku, Oxford street sejajar dengan  Orchard Road Street dan Champ Ellyse Paris. At least, Kaku pernah mengunjungi Orchard Road Singapore dan kali ini-mungkin-aku akan terbiasa mengunjungi Oxford street.
Aku dan Kak Daffa mencoba menelusuri satu per satu toko yang ada di Oxford street. Di sela-sela pencarianku, terkadang tanpa sengaja aku mencium aroma cokelat panas yang masih mengepul atau sesekali aroma panggangan Lancashire Hotpot yang dijual di kedai-kedai sekitar. Hmm, lezatnya aroma-aroma ini.
Saat hidungku bertemu aroma-aroma itu, tanpa sadar aku melangkahkan kakiku ke sebuah toko cokelat. Kehangatan menelusup ke dalam tubuhku ketika aku mulai menginjakkan kakiku ke dalam toko cokelat ini. Aroma cokelat menguar seketika saat  aku melihat beragam cokelat yang dipajang di etalase kaca bagian dalam yang panjang. Aku menebarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Ada berbagai macam ornament natal yang menghiasi dinding-dinding ruangan. Temaram lampu oranye yang dipajang membuat kesan mewah yang jelas menciptakan pantulan menggoda dari cokelat-cokelat mewah yang dipajang.
Aku sibuk memilih cokelat untuk kubeli. Beberapa jenis cokelat terkenal juga tersedia di sini, seperti Lindt and spugli chocolate asal Swiss, Ghirardelli asal Amerika yang terkenal karena kualitas cokelatnya, dan juga Ferrero rocher yang berbentuk bulat dengan dibungkus kertas emas hasil produksi  Chocolate Ferraro Rocher. Aku memilih beberapa cokelat Ferraro Rocher dengan rasa pistachio, strawberry, kelapa dan lemon. Ya, harap dimaklumi, aku salah seorang penggila chocolate. Biasanya, ketika aku memiliki problema hidup, satu-satunya pelarianku hanya pada batangan cokelat manis yang akan meleleh ketika masuk ke dalam mulutku. Rasa manisnya akan menghilangkan seluruh tekanan yang begitu menyesakkan otakku. Yah, begitulah dia bereaksi dalam hidupku. Sebuah cokelat.
Setelah memilih varian cokelat Ferrero Rocher, aku beralih ke Lindt and spugli chocolate yang memiliki rasa populer yang unik, yaitu rasa hot papaya yang pedas. Tak lupa, aku mengurutkan satu per satu cokelat yang ingin kuberikan ke Kak Daffa dan-mungkin-memintanya menyimpan sedikit di freezer.  Kak Daffa? Oh my God, kemana dia? Bukan, bukan, lebih tepatnya dimana aku? Kenapa aku sebodoh ini? Aku baru saja menyadari jika aku tanpa sadar pergi darinya. Adel, why you are too stupid? Bodoh, bodoh, bodoh! Mungkin mudah saja untuk Kak Daffa kembali ke rumah karena ia tahu seluk beluk kota ini. Sedangkan aku? Alamat rumah Kak Daffa saja aku tak hafal. Oh God!! Yang terpikir saat ini hanyalah menghubungi ponsel Kak Daffa. Tanpa pikir panjang aku segera meraba kantong sakuku untuk mengambil ponselku. Err, tunggu sebentar disana! Kacau, aku meninggalkan ponselku di apartement pagi tadi. Rasanya baru tadi aku bahagia, kini sekejap mata langsung habis tak tersisa. Lebih parahnya, aku sama sekali tak mengantongi uang sepeserpun. Bagaimana aku kembali? God, aku tak ingin menjadi gelandangan yang terlantar di negeri Elizabeth ini. Aku ingin ke telepon umum, tapi jika 1 sen saja aku tak mengantongi, bagaimana nantinya?
Oh God,
Kak Daffa, please! Find me here! I’m afraid…..
TO BE CONTINUED

Rabu, 09 November 2016

FEELINGS

FEELINGS
Hello, Guys!! Nice to meet you today😀 I'll write something about feelings. Stop! Don't think that I'll post about love or something like that, but I would like to write about our daily feelings that usually annoy us sometimes.
I think that everyone would be upset even angry if someone meet these acts. Lets check it dot! 😄😄
1. Bad mannered people😲
Everyone would be upset if they meet a person who has a bad manner. A bad manner make someone think negative about the person. If it happened, someone will think about how their parents teach them. Thus, don't make a bad manner guys!
2. Interrupt  someone's speaking😏
Someone would be annoyed when her/his speaking was interrupted by other. I think it doesn't matter if the interruption more important than the speaker's spoken. But, if someone interrupts other with his own story is similar with egoism. It is one of bad manner that make other disturbed and feel uncomfortable.
3. Teachers speak quickly😞
In my point of view, I'll annoy if my teachers speak quickly. It is because I can't catch their explanation well. Quick is doesn't matter, but too quick isn't a good way to explain something. Students have different brain's level each other, there are some students who could catch an explanation easier than other, but there are some students who feel slower to catch a quick explanation. Speak quickly isn't adviced just for teacher, but for everyone. Someone will catch our explanation easier if we speak slowly and clearly.
4. Nasty comments😟
Some people don't like with a nasty comments. There are people who have a sensitive heart where they feel hurt when someone give them a comment. It depends to theirselves. Thus, don't comment someone with a bad words, if they make a mistakes, give them an advice nor make them more falling  and feel worse.
5. Waiting for something😥
Almost people hate a word “wait” for a long time. In this era, who want to wait something for a long time? Except they who have an extra more patience. For a small example, someone who has made an appoinent at a certain time with a doctor will be angry if he/she is asked for waiting for ages. It means, the doctor couldn't keep her/his promises. That still in a simple example. There are so much other examples. Thus, don't make other waiting for us, because waiting for someone is like a thousand years. But, be patient if we have to waiting for someone, because sometimes waiting is a delicacy for ourselves.

6. Beggar😠
A young beggar is annoying. They should still work hard, but they just ask from a house by a house. I could see their perfect body that looks healthy without any minus on them. An old way is when they bring a baby, so everyone will feel pity to them. It makes me disgusted. But,sometimes I feel pity with old beggars. Almost of old beggars are touching. I can't imagine how hard their life. And I have asked my mind for many times “Do they have children? If they have, where is the children's responsible?”. It will feel so cruel if their children life with so much peaces without thinking their parents who have become a beggar. Thus, as a young generation we have to try to developing our country, don't be a beggar in young ages. And remember, keep our parents as good as we could. They have taken care of us from we still inside mommy's  belly until we adult as today.  Is cause our parents.😍😍😘
7. When we have to say “No” 😦
Sometimes, we will be heavy to say No to others. It makes us feel upset with ourselves. With that, we could knew how important help is.
8. Seeing homeless people😢
We will feel upset if we are seeing homeless people. Thus, we have to grateful for everything that God gave to us.
9. Hiting childhren😡
I will angry if I see a child who is hit by others. It is a bad manner to do. And by hit others, we could add other problems. There are many ways to solve a problem, it depends to us who have the problem. It is important to teach our generation what the meaning of peace.
10. Pictures of famines in India, Africa, etc 😢
We will so upset if we see pictures of famines in India, Africa, etc. Its famines are in serious condition. We have to thankful onto Our God, because we can get a healthy body. If we have wealthy more than enough, try to help them. They are our family too. So, don't be stingy to help each other. 😊😊


That's all my post, I am sorry if there are many mistakes, just comment here! 😊😊 I would like to accept your advices.😊😊 see you to the next post, Guys!!!😘😘😘

Sabtu, 29 Oktober 2016

Posong sunrise adventure


~SUNRISE ADVENTURE AT NOON~





Hello guys! Have you visited tobacco city? Where is that? Tobacco city is Temanggung. Temanggung is a regency that located in Central Java. Temanggung is my hometown that popular with its tobacco. Temanggung has so many places to visit. One of them is Posong. Posong is a place that give us a beautiful view, especially sunrise adventure. So, I would like to share my experience when I went to Posong. 😉😉
At 19th July 2016, my friends and I wanted to take a walk. We were confused where we would go? I said, ‘Let’s go to Posong, guys. I never go there before!”. They agreed with me. Then, we went there at noon. Although Posong and my house still a regency , but our distance was far, we needed for about 1,5 hours to got the main gate that was written by a greeting “WELCOME TO POSONG”. The circumtance began to be a cold moment. We entered a highlands. After we entered the gate, we had to pay Rp 8000,-/person. Our trip still so far from the gate. Our motorcycle walked on a gulo kacang's way. It means the way that we through was a simple way that was built by rocks. The way was up and down, it made my waist so weary because I was sat down behind my best friend.
When we got a half of the way, motorcycle that I rode suddenly off. I felt scared when we stopped in the middle uphill road of gulo kacang’s way, and the motorcycle released much smokes from its exhaust. I had to go down and walked up on foot. My other friends who their motorcycle fine was laugh at me when I walked up with a strange expression and tired face. You know why? Because I was too tired to brought my fat body.😂😂😂  After the motorcycle fine again, I rode it again. Along the way, at the left and right, our eyes just saw tobaccoes field  and pines.







We arrived to the top at 2 a.m. then we directly did the dhuhur pray. When I took abolution there, the water felt so cold as I took abolution with ices. After that, we spent our time to enjoyed  a great view from the top. You know guys? Posong is a high place between Sindoro and Sumbing mountain, but from the top of Posong, we also could see the top of 7 mountains, they are Merbabu, Merapi, Muria, Telomoyo, Ungaran, Sumbing and Sindoro. Actually, Posong is a sunrise adventure, so, the best time to visit is when morning comes. But, we came at noon, and unfortunately the sky was cloudy.
We spent our time for about 2 hours. After we took so much pictures, we came back. But, before we back, in the middle way, we ate meatball in the park. That was my adventure.😊😊


Selasa, 18 Oktober 2016

AUFARU

                              AUFARU

I don't know how begin this story, but I think this is my best story when I was Senior High School. It began at 2013 when I had graduated my Junior High School. I had to choose where I continued my study, between SMK or SMA. SMK had 3 mayors, those were TKJ, MM, and TB. Besides it, there was SMA who had 2 mayors, IPA and IPS, but SMA was a new school. It means when I entered SMA, I will be first generation  of it, and I had to struggle more. I thought it for a long time. I didn't knew, my heart choose SMA. My first reason because I had a dream that there weren't relation with SMK. At first, my father disagree when I choose SMA. Why? Because SMA didn't accreditation yet. Then I explained to my father what I want, what I dreamt, what I had choosen. This is clearly so much of risk when I took SMA, a school without a building and I didn't knew how this way would be.

I entered SMA. I felt grateful when there were 120 students in the hall of boy's boarding. We gathered there, don't ask me why? The answer is clear, we didn't have any building. We still hitchhike. But, I thought we had a great vision. Each of us had so much reason to be here, one of us were students who forced to be here. They were forced because my SMA was a school with a boarding or dormitory, so we had to stayed at dormitory as long as we there. It would be hard for someone who usually live without any rules. Because, my dormitory was so dicipline.

Someday, my Kyai gave us name, our name was AUFARU, it means more perfect. Sometimes we felt heavy used that name because its mean. But, we hope from it, a good pray would accompanied us as long as our way. 

Day by day was through by us. And there were so much of my friends who moved from my school. Especially the boys, from more than 40 boys became 21. It because they got bullying at dormitory. Why? Because, SMA was new, and they had to struggle among students from old school that felt stronger and better. In order that, we had to let so much friends that we hoped could stay with us until we passed the National examination.

We were realize that we had to more stronger than before. And we were be a big family who would always help each other. We didn't care if we aren't school at a building, but we care about each other. Besides that, we had our teachers who always support us everytime, they were really great teachers. 3 years walked together made us better with some awards that we got. It is amazing for beginner school like us. And we could solve our problem with older school, we did a peace. And the last, we successed together to passed our examination. In order that, AUFARU is my unforgettable memories.

Selasa, 04 Oktober 2016

little house in the big woods part 1



LITTLE HOUSE IN THE BIG WOODS
chapter 1

                         Little house in the big woods is a novel written by Laura Ingalls Wilder. I would like to explain a little part of this book. The first chapter explain about a family who lived in the middle forest without neighbour around them. The main character named Laura who called her father Pa and her mother Ma. She lived with her parents, her sister Mary and her baby sister Carrie. They lived in the Big Wood of Wisconsin, in a little gray house made of logs. The dark trees of Big Woods stood all around the house, and beyond them were other trees and beyond them were more trees. There were not people around them, but there were only wild animal among them. As a night when Laura lay awake in the trundle bed, she heard a wolf howled, then the wolf came nearer, and howled again. Laura believed that a wolf eat little girls. But she felt save because she had been inside and there was a bulldog named Jack outside who would keep her from a wolf. Another it, she felt save because her father had a gun in their room which could make all wolves run.
                        In the first chapter, this novel tells  about Laura’s and her daily activity with her family. For example, this novel tells how to looking for foods among a  dark trees. laura’s father made a trap to catch a deer and gathering so much fishes. One day, when Laura’s father got a deer, he skinned the deer carefully and salted and stretched the hides, for he would make soft leather of them. After the deer meat had been several days, Laura’s father cut a hole near the end of each piece and put a string through it. Laura saw her father hang the meat on the nails in the hollow log. Her father ask her to the chopping block and fetch him some of green hickory chips-new. And laura did it. Her father built a fire inside the little door in the hollow log of tiny bits of bark and moss, then he laid some of the chips on it very carefully. Instead of burning quickly, the green chips smoldered and filled the hollow log with thick choking smoke. Laura and her mother watched the fire for several days. When smoke stopped coming through the cracks, Laura would bring more hickory chips and her mother would put them on the fire under the meat.
                       

Hi!

 hai!  Lama sekali aku tak mengunjungi blog milikku sendiri. Aku hampir lupa kalau aku punya akun ini. Waktu sudah lama berlalu, aku sekaran...